LPJ KETUA HMSP 2004-2006
February 4th, 2007 by hmspugmdan tak ada yang lebih sulit dapat dipahami daripada si manusia…jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput (Pramoedya Ananta Toer)
Awal aksara
Ada suatu yang menarik ketika kita berujar tentang usia. Usia bisa jadi melukiskan sebuah perjalanan atau sebuah penantian. Usiapun tak menjadikan diri kita menjadi arif (bijaksana); namun hadirnya bersifat kontingen, ada begitu saja. Entah, kita sempat mengaca atau belajar darinya. Dan usia dua tahun bukanlah masa yang panjang untuk mencukupkan rembihnya peluh atau terwujudnya sebuah keinginan; sebab waktu masih terus berjalan. Entah kita menyadarinya atau tidak. Terkadang waktu meningkahi kita di sela senggang. Begitu tersadar, kita dikhianatinya. Dan kita belum merubah apa-apa. Begitupun juga manusia.
Entah, pemimpin terlahir atau tercipta. Lantas, kita tidak begitu saja menuding para psikolog yang berharap menciptakan salah satunya. Atau kita menunjuk para filsuf yang berujar bahwa eksistensi seorang pemimpin mendahului esensinya; lalu kita mendefinisikannya. Seorang pemimpin terlahir kapan saja. Dan waktulah yang kemudian menempanya. Antara dedikasi dan tanggungjawab, mana yang ia pilih? Apakah setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya? Kita sendiri yang akan menjawabnya. Yang kita perlukan dalam diri seorang pemimpin hanyalah sedikit pemahaman terhadap keinginan orang lain, lalu mewujudkannya sama-sama.
Dedikasi dan tanggungjawab dalam konsep organisasi mesti menjanjikan berpundi materi; sebab kita mesti berpikir adanya konsep menerima-memberi. Paradigma seperti ini akhirnya mesti mati. Oleh karena organisasi ini bersifat komunal, kinerjanya mengandaikan prinsip kerjasama untuk mencapai suatu tujuan. Setiap orang mengemban amanah atau tanggungjawab. Hubungan baik antarsesama merujuk sebuah kerendahhatian ego dan id-nya. Dan dedikasipun ikut bergayut padanya. Konsep ini kemudian ditengahi oleh perolehan ilmu dan pengalaman yang bersifat abstrak.
Lain halnya dengan konsep organisasi yang bersifat profesional. Materi hanyalah seklumit kontraprestasi atas apa yang kita lakukan. Bisakah organisasi komunal berubah menjadi organisasi profesional? Bisakah organisasi yang berlandaskan dedikasi, tanggungjawab, dan segala terma omong kosong tersebut mengacu pada konsep memberi-menerima? Waktu lagi yang akan menjawabnya. Apakah materi itu seperti slilit yang terselip di sela gigi? Dan hanya kita sendiri yang merasainya? Ilmu dan pengalamanpun akhirnya seperti setitik cahaya bagi orang buta. Apakah setelah selesai nanti, titik cahaya itu bisa menuntun kita menatap dunia (nyata)? Entah. Pertanyaan tersebut kemudian menggiring pada pilihan: organisasi komunal, profesional, atau gabungan di antara keduanya. Setiap pilihan dilandasi oleh tanggungjawab. Akhirnya, semua konsep tadi hanya berwujud slogan jika pilihan tak dipilih atau hanya berdiam sehening-hening arca.
Seorang pemimpin tidak berada pada suatu jenjang hierarkis paling tinggi di antara subjek-subjek lain. Ia hanya berfungsi sebagai fasilitator dan bukan sebagai patron yang memerintah sekehendak hati dan duduk ongkang-ongkang kaki. Inisiatif dari subyek lain kemudian memegang peran kunci sebagai pembuka jalan atau penunjuk harapan. Secara fungsional seorang pemimpin bersifat fleksibel terhadap sesuatu yang mengikatnya; secara struktural ia mesti bertanggungjawab atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin diibaratkan sebagai penunjuk jalan, lalu secara bersamaan semua berpegang tangan guna menghindari tubir yang berada di depan, samping atau belakang. Semua akhirnya memosisikan dirinya sebagai subyek perubah atas obyek yang ingin dikenal atau dihindarinya. Akhirnya, ia tidak berada paling depan atau di belakang; namun ia dan kesemuanya berjalan beriringan.
Pelbagai kegiatan yang kita gagas hanya berwujud sebuah pemantik api. Kegiatan yang kita binapun hanya seputar itu-itu saja; walaupun ada beberapa yang digolongkan masih baru (lihat daftar). Kegiatan tersebut merupakan kesetiaan kita atas usaha-usaha yang telah dirintis para pengurus HMSP terdahulu; guna merekatkan emosi antarmahasiswa, mahasiswa-dosen, mahasiswa-alumni dan mahasiswa-dosen-alumni.
Kegiatan yang kita gagas masih bertahan pada bidang studi yang sedang kita geluti (lihat daftar); namun kesemuanya kemudian masih perlu dimaknai kembali: berguna, tidak berguna, atau hanya sebuah keisengan belaka.
Ada juga beberapa kegiatan yang mengandaikan sebuah bentuk lain pembelajaran di luar kelas. Hadirnya perlu dirawat dan disirami; bahkan, jika kesempatan masih ada, perlu dibentuk lagi kegiatan serupa atau baru sebagai salah satu alternatif penerapan ilmu di luar kelas. Kegiatan yang telaksanapun menghasilkan apa yang kita sebut pemimpin-pemimpin tadi; namun waktulah yang akan menempanya. Konsep kepemimpinan akhirnya tak berujung di jam terakhir pelatihan, lembar terakhir buku atau skripsi; namun ia bersemayam pada kehidupan sehari-hari, hal remeh, maupun hal-hal lain yang luput dari pandangan kasat kita, gempa misalnya.
Kerikil-kerikil tajam
HMSP-Mahasiswa
- Langkanya inisiatif mahasiswa dalam merancang atau menggagas sebuah kegiatan
- Minimnya partisipasi mahasiswa dalam sebuah kegiatan yang terselenggara
- Masih terbentuk kelas-kelas sosial dalam setiap angkatan maupun program studi
- Masih terbentuknya paradigma kuliah-pulang-kuliah
- Adanya kejengahan dalam diri mahasiswa ketika mengungkapkan suatu pendapat ataupun opini
Mahasiswa-HMSP
- Kurangnya informasi yang berasal dari luar sampai kepada mahasiswa
- Adanya perbedaan kelas sosial dalam penyelenggaraan beberapa kegiatan
- Masih adanya jurang pemisah antara senior dan junior
- Kurangnya kegiatan yang bersifat menghibur
- Kurangnya kegiatan yang menyatukan semua mahasiswa
HMSP-Jurusan
- Minimnya dukungan moril maupun materil dalam setiap kegiatan
- Kurangnya partisipasi dosen dalam setiap kegiatan
- Minimnya posisi tawar mahasiswa dalam setiap keputusan
- Adanya hambatan birokrasi dalam setiap kegiatan
- Langkanya pemanfaatan sarana maupun prasarana milik jurusan
Jurusan-HMSP
- Minimnya kerjasama antara HMSP dan jurusan
- Adanya silang-pendapat yang bersifat obyektif maupun subyektif
- Adanya kesalahpahaman dalam pemanfaatan sarana dan prasarana jurusan
- Adanya mahasiswa yang bersikap kritis; namun dalam studinya berujar sebaliknya
- Adanya sebuah sikap perlawanan; oleh karena itu mesti dijinakkan
Pelita
· Perlu digagas kembali budaya membaca dan menulis di kalangan mahasiswa dalam bentuk sebuah media teks maupun hiperteks: Buletin, Blog, Web Site maupun Mailing List (poin nomor 5 untuk HMSP-mahasiswa dan poin 1 mahasiswa-HMSP).
· Perlu digagas pelatihan jurnalistik yang berfokus pada produk maupun isi: pelatihan jurnalistik selama beberapa hari dan menghadirkan para praktisi. Hasil akhirnya kemudian diterbitkan dalam bentuk buletin atau hiperteks (blog) (poin nomor 5 untuk HMSP-mahasiswa dan poin 1 mahasiswa-HMSP).
· Mesti dibentuk kembali kegiatan yang bisa merekatkan emosi HMSP-mahasiswa: piknik bersama, nonton film bersama, acara memasak masakan Prancis-Indonesia, dsb (poin nomor 2, 3 HMSP-mahsiswa dan poin 2, 3, 4, 5 mahasiswa-HMSP).
· Perlu dibentuk kembali kesadaran dalam diri mahasiswa atas dunia kerja melalui kegiatan: sarasehan alumni yang bertema seputar dunia kerja atau diskusi melalui Mailing List (poin nomor 1, 4, 5 HMSP-mahasiswa dan poin 1 mahasiswa-HMSP.
· Perlu dibentuk kembali jaringan mahasiswa alumni untuk merekatkan kembali emosi mahasiswa-dosen-alumni: friendster, blog, maupun Mailing List (poin nomor 1, 4, 5 HMSP-mahasiswa dan poin 1 mahasiswa-HMSP.
· Perlu diadakan kembali Forum Mahasiswa-Dosen yang kedua (poin nomor 1 sampai 5 HMSP-Jurusan dan poin nomor 1 sampai 5 Jurusan-HMSP).
Jejak kaki
Pelbagai kegiatan telah terdokumentasi dengan sebaik-baiknya. Tujuannya kemudian hanyalah suatu upaya untuk tidak mengenangkan kembali (bernostalgia) atas peristiwa yang telah lewat; namun sebaliknya, nostalgialah yang menjadikan kita ada sekaligus tiada. Berikut daftarnya:
- L’Ésprit de Mai (Foto)
- La Soirée de Français (DVD dan VCD Musikalisasi Puisi)
- Buletin “Avant-Garde (4 edisi dari 6 edisi yang tercetak)
- Musyawarah Nasional IMASPI (VCD dan DVD)
- Hari Keluarga besar HMSP dan alumni (Foto)
- CD Multimedia “Que Sais-je” (VCD dan DVD)
- Suksesi HMSP 2006 (VCD dan DVD)
Akhir aksara
Laporan Pertanggungjawaban yang tersusun ini hanya berujar apa adanya. Juga, laporan ini mudah-mudahan bermanfaat bagi mereka yang meneruskan tongkat estafet kepengurusan HMSP ke depan. Dan harapannya tidak ada orang yang merasa kehilangan ataupun tersinggung karenanya. Sebab amanah dan dedikasi hanyalah sebuah penghayatan kita atas nilai-nilai maupun dogma yang kita percaya. Yang kita anut tadi tidaklah bersifat ajeg; namun bisa dimaknai kembali sesuai konsep ruang-waktu yang penuh paradoks dan berlimpah teka-teki.
Akhirnya, terimakasih mesti terucap pada pengurus-pengurus HMSP atas dedikasi dan tanggungjawabnya. Juga, ungkapan gembira tertujukan pada seluruh mahasiswa studi Prancis atas dukungan dan kesetiaannya. Tanpa kesemua elemen tersebut, seluruh kegiatan mustahil terlaksana. Dengannya, makna persahabatan, kerjasama, dedikasi, dan tanggungjawab akhirnya tersingkap sudah. Segala salah maupun alpa, kita simpan saja dalam hati. Dan suatu saat kita kenangkan saja, lalu lupakan kembali. Barangkali, segala yang kita lalui tidak menjadikan kita bijaksana; namun hanya menumbuhkan kesadaran: waktu memang telah dan masih ada. Ia telah menikam kita. Dan kita mesti berbahagia.
Ketua HMSP demisioner

